Pages

Adenomiosis dan Tekanan Emosional : Tentang Rasa Sakit dan Harapan

Kamis, 26 Februari 2026

Ada hari-hari ketika tubuhku terasa seperti medan perang yang sunyi. Adenomiosis bukan hanya tentang rasa sakit yang datang dan pergi, tapi tentang bagaimana ia perlahan mengubah caraku memandang hidup. Rasa nyeri itu nyata, tapi yang sering lebih melelahkan justru tekanan di kepala, ketakutan yang muncul diam - diam, tanpa suara, tanpa peringatan.

Aku tertekan. Bukan karena aku lemah, tapi karena ada terlalu banyak hal yang harus ku terima dalam waktu bersamaan. Tubuh yang tidak selalu bisa di ajak bekerjasama, pikiran yang terus bertanya - tanya, dan masa depan yang kadang terasa kabur. Aku belajar tersenyum diluar, sementara di dalam aku berusaha keras menenangkan diri sendiri.

Hal yang paling sering menghantuiku adalah satu kerinduan yang tidak sederhana: keinginan untuk memiliki anak. Kerinduan itu tidak selalu datang sebagai tangisan, kadang hanya hadir sebagai sunyi yang panjang. Aku rindu membayangkan kehidupan kecil yang tumbuh, rindu harapan yang bagi sebagian orang terasa biasa, tapi bagiku begitu rapuh dan berharga.

Sulit rasanya menerima bahwa sesuatu yang begitu kuinginkan mungkin tidak mudah kudapatkan. Ada hari dimana aku merasa tubuh ini menghianatiku. Ada hari dimana aku bertanya, kenapa harus melalui jalan ini. Ketakutan tentang masa depan sering datang tanpa izin, membuat langkahku terasa berat.

Namun, di tengah semua itu, aku masih ingin bertahan. Aku masih ingin hidup dengan baik, dengan hati yang tidak terus menerus diliputi rasa takut. Aku ingin belajar menerima tubuhku apa adanya, sambil tetap menyimpan harapan meski kecil, bahwa hidup masih bisa memberiku hal -  hal baik.

Jika kamu membaca tulisan ini, aku ingin meminta satu hal yang sederhana: doakan aku. Doakan agar aku diberi kekuatan, ketenangan, dan kelapangan hati untuk menjalani hidup ini. Doakan agar aku mampu berdamai dengan apapun yang terjadi, dan jika Tuhan  mengizinkan , doakan agar harapanku tentang seorang anak bisa terjadi. Aku tidak meminta hidup yang sempurna, aku hanya ingin cukup kuat untuk terus berjalan, pelan - pelan, tanpa kehilangan diriku sendiri.

_Mareth Mars  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Template Etha by Rismars Ruth Maretha